Top Header Ad

Ngalap Berkah Mustasyar KH. Masra'i

Jamani bersama KH.Masra'i

Oleh Jamani (Wakil Sekretaris PCNU Kayong Utara)

Izin Pak Kiyai untuk mencurahkan atau spill istilah kekinian. Tak terasa sudah hampir 20 tahun mengenalmu, sejak tahun 2006 ketika itu saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di STAIN Pontianak (sekarang IAIN) di Tanah Kayong. KKN pertama dengan Pendekatan PAR (Partisipatory Action Research) di Sukadana Kabupaten Ketapang ~ sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Kayong Utara. 


Pertama terdengar namamu diperkenalkan anak Kepala Desa Pangkalan Buton Edi Santosa alias Edi Gebok, karena Kepala Desa Bapak Muslimin sedang sakit. Sesuai jadwal agenda sosialisasi kami pun bersama-sama hendak bertamu kerumahmu. Tepat pada hari itu Kiyai sedang mengisi acara pengajian ibu ibu di salah satu rumah warga di Sei Gali Desa Pangkalan Buton. 


Alhamdulillah, kami disambut tuan rumah dan dipersilakan untuk duduk bersama di tengah para ibu-ibu majelis taklim. Sebelum berkenalan dengan beliau. Barokah pertama pun didapatkan, kami sudah disuguhi air kopi dan berbagai makanan khas tradisional, seperti kue blodar, lepat Ubi, cucor, Srikaye, buah pisang dan semangke.


Barokah kedua, seusai beliau membaca tahlil dan berdoa, beliau pun menyampaikan nasihat hikmah tentang keutamaan saling menghormati dan menghargai. Kami sempat mendengarkan penuh hikmat sambil merekam dengan alat rekam jadul Walkman merk sony, barokah ketiga pun didapatkan sebagai data laporan, hehe. 


Setelah acara selesai, kami pun berkenalan dengan sosok kharismatik  KH Masra'ie. Dari pertemuan itu, barokah keempat pun didapat beliau juga seorang petani, pekebun, perternak sapi. Beliau menawarkan secara gratis kalau butuh sayur, langsung kerumah beliau. Kalau mau makan daging sapi, nanti kalau ada diantara kalian (mahasiswi) jadi menantu, guyon beliau. 


Ternyata tidak hanya itu, ketika hendak pamit pulang kami dibekali makanan masing-masing mendapat satu kantong plastik kresek hitam berisi makanan yang disantap dalam majelis sebelumnya. Barokah ke lima hati senang perut kenyang, bonus lagi, hehe. 


Sungguh, pertemuan pertama itu terasa hangat, seperti meneguk air kopi hitam dan hisapan  rokok kretek, begitu nikmat. Pastinya perkenalan itu tidak hanya menjadi momen pertemuan fisik, melainkan juga awal dari pemahaman saya tentang  ilmu dan kedermawanan sosok orang shaleh yang benar-benar mengabdikan diri untuk masyarakat.

 

Kiyai Masra'ie dikenal bukan hanya karena keilmuannya dalam agama, tetapi juga karena peranannya sebagai tokoh masyarakat yang disegani; kharismatik dan sangat pantas beliau menjadi Rois Suriyah dimasanya~ saat ini sebagai Mustasyar PCNU Kayong Utara. 

 

Tadi malam (Kamis, 4 Sa'ban 1447 H) dipertemukan kembali dalam acara Tabligh Akbar, Reuni Keluarga dan alumni Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad serta Harlah Imtihan Pondok Pesantren Tarbiyatul Aulad. Pertemuan ini semakin terasa barokahnya. 


Disela pertemuan, saya meminta izin kepada beliau untuk menjadi Ketua Pembina Jaringan Kiyai dan Santri Nasional (JKSN) Kabupaten Kayong Utara. Organisasi Besar bentukan Prof. Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim, MA. Alhamdulillah, Barakallah, dengan penuh ketawaddu'an beliau menjawab, inshaAllah nak".  Semakin terasa barokahnya. 


Semoga Pak Kiyai Masra'ie senantiasa diberikan kesehatan, panjang umur dan senantiasa dalam limpahan rahmatNya. Menjadi sosok penerang, pemelihara tradisi dan Nilai luhur, dan pelestari nilai-nilai budaya dan agama di tanah bertuah. 

Amiin Allahumma Amiin. 


Tanjung Belimbing

Jum'at, 4 Sa'ban 1447 H / 23 Januari 2026 M. 

...................... 

Jamani

Posting Komentar

Footer Ad

Footer Ad

Contact form