Top Header Ad

MENGENANG KIAI TOHIRIN MUSTHAFA: Hidup Membumi, Melayani dan Membawa Damai

 

Kiai Tohirin Mustofa

Ada sosok-sosok di dunia ini yang kehadirannya tidak terekspose luas, namun pengaruhnya meresap jauh ke dalam relung jiwa. Salah satunya adalah Kiai Tohirin Musthofa. Beliau bukan sekadar seorang ulama namun  beliau adalah wujud dari ketenangan itu sendiri. Siapa pun yang duduk di hadapannya akan merasakan  aura yang teduh, tatapan matanya yang tulus dan wajah yang senantiasa berseri seolah mampu meluruhkan beban hidup yang dibawa para tamunya.

Beliau ibarat oase di tengah gurun yang tandus. Pintu rumahnya terbuka lebar bagi siapa saja, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat. Namun, di hadapan Kiai Tohirin, semua sama. Beliau tidak pernah silau oleh jabatan, tidak pula mengharap imbalan. Satu hal yang paling melekat dalam ingatan banyak orang; tak pernah sekalipun terdengar ucapan buruk keluar dari lisannya. Beliau tidak pernah mengguncing, apalagi merendahkan lawan bicaranya. Rahasia-rahasia hidup banyak orang yang datang mengadu tersimpan rapat di dadanya, terkubur bersama kerendahan hatinya.

Mbah Kiai Tohirin bersama Mbah Putri ( Sri Suwarni)

Kerendahan hati Kiai Tohirin Musthofa tercermin nyata dari cara beliau bertutur kata. Dalam kesehariannya, beliau hampir tidak pernah memanggil orang lain langsung dengan namanya, sekalipun lawan bicaranya berusia jauh lebih muda atau bahkan anak-anak. Sebaliknya, beliau senantiasa memilih sapaan yang penuh takzim dan kehangatan, seperti 'Nak', 'Bapak', 'Ibu', 'Abang', hingga 'Adek'. Pilihan kata ini bukanlah sekadar nasa basi, melainkan cermin dari kedalaman jiwa beliau yang sangat menghargai harkat dan martabat setiap orang tanpa memandang status maupun usia. Melalui tutur katanya yang santun, Kiai Tohirin mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh kedudukan, melainkan dari sejauh mana ia mampu memuliakan sesama.


Kiai Tohirin Mustafa Lahir di Temanggung, Jawa Tengah, pada 10 November 1948, beliau adalah putra dari pasangan Abdullah Kusari dan Tupi’ah. Ia juga mengalir darah ningrat yang luhur, berhulu dari jalur Kartoredjo hingga R. Surodipo Pepatih dhalem Kesultanan Yogyakarta. Namun, garis keturunan bangsawan ini tak membuatnya tinggi hati. Sebaliknya, beliau memilih jalan hidup yang membumi di masyarakat.


Masa kecilnya dikenal dengan nama Asmu’i, sebelum kemudian berganti nama menjadi Tohirin Musthofa setelah meminang Sri Suwarni sebagai pendamping hidupnya. Meski secara formal hanya mengecap pendidikan Sekolah Rakyat (SR), semangat belajarnya tak pernah padam. Beliau mendalami ilmu di berbagai pesantren Syafi’iyah, menekuni kitab-kitab karya Syaikh Ahmad Rifa’i yang kaya akan kearifan lokal Jawa, penjabaran Al-Qur'an, serta hadis yang diterjemahkan dengan bahasa yang menyentuh kalbu.

Kehidupan Kiai Tohirin adalah cermin dari kemandirian seorang santri. Di kaki Gunung Sindoro, Sumbing, dan Prahu, beliau menjalani hidup sebagai petani sekaligus tukang kayu. Tangan yang kasar karena bekerja itu, pada malam hari, berubah menjadi tangan lembut yang membimbing pengajian untuk bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak di kampungnya.

Pemakaman Mbah Kiai Tohirin Mustafa 

Tidak hanya membimbing ruhani, beliau juga dikenal sebagai "penyembuh" bagi mereka yang menderita gangguan kejiwaan atau kesehatan mental. Menariknya, dedikasi ini ia jalani beriringan dengan istrinya (Mbah Putri), seorang dukun bayi yang sangat dihormati. Kiai Tohirin dengan setia mendampingi sang istri ke pelosok-pelosok desa untuk membantu persalinan. Pasangan ini menjadi duo pengabdi kemanusiaan yang bekerja tanpa pernah memasang tarif. Keikhlasan adalah satu-satunya upah yang mereka cari.


Pada tahun 2003 menjadi babak baru saat beliau memboyong keluarganya pindah ke Kalimantan. Di sana, beliau bersama masyarakat mendirikan Pondok Khizbul Wathon, sebuah mercusuar pendidikan bagi masyarakat sekitar. Di hari tuanya, rutinitasnya tak berubah: bertani di lahan pekarangan, memberikan nasihat, dan tetap setia mengantar Mbah Putri membantu ibu-ibu yang akan melahirkan.


Hingga akhirnya, pada Senin dini hari, 12 Januari 2026, di usia 79 tahun, sosok bersahaja ini dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi 5 orang putra, para cucu, santri, dan masyarakat luas yang pernah merasakan ketulusannya. Beliau kini beristirahat dengan tenang di kompleks Pondok Khizbul Wathon, tempat yang ia bangun dengan cinta.



Ada sebuah kisah haru di tengah suasana tahlilan tujuh hari wafatnya beliau. Seorang warga yang lama menderita GERD Anxiety (maag kronis disertai kecemasan psikologis) bercerita tentang keajaiban kecil yang dialaminya. Biasanya, orang tersebut tidak bisa berada di kerumunan karena akan diserang keringat dingin dan pusing luar biasa. Namun, saat berada di rumah duka almarhum, ia merasa "plong". Kecemasannya hilang, kepalanya ringan, dan sakit maagnya tak kambuh lagi.

Inilah salah satu keistimewaan beliau , Aura Positif yang Melampaui Kematian. Jangankan saat hidup, saat sudah tiada pun, kedamaian yang beliau tanam semasa hidup masih memberikan manfaat bagi orang lain. Beliau adalah bukti nyata bahwa hidup yang paling berarti adalah hidup yang menjadi rahmat bagi sesama.

Semoga beliau dilapangkan kuburnya, diterima segala amal baktinya, dan semoga sifat-sifat luhur beliau dapat terus kita teladani. Amin ya Rabbal Alamin. MH


Posting Komentar

Footer Ad

Footer Ad

Contact form