![]() |
| Suasana harlah NU KKU periode Pengurus Baru |
Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum konsolidasi ideologis, spiritual, dan organisatoris bagi seluruh struktur NU, termasuk di tingkat cabang. Ketika PCNU Kayong Utara gagal melaksanan Harlah NU yang meriah, Harlah NU dilaksanakan yang penting ada, hal ini patut disayangkan sekaligus dijadikan alarm evaluasi, bukan semata untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memperbaiki tata kelola organisasi.
Kegagalan tersebut dapat mencerminkan beberapa kemungkinan persoalan mendasar, seperti rendahnya kualitas kepemimpinan, lemahnya koordinasi internal, kurangnya kesiapan sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, atau retaknya hubungan dan minimnya komunikasi antar-badan otonom dan lembaga di bawah PCNU. Jika benar demikian, maka Harlah NU yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan justru menyingkap tantangan nyata dalam pengelolaan organisasi di tingkat lokal.
PCNU Kayong Utara perlu menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh, memperkuat dan mengembalikan kepemimpinan kolektif, membangun sistem kerja yang lebih terencana, serta menghidupkan kembali semangat khidmah. Jika PCNU Kayong Utara mampu belajar dari kegagalan ini dan berbenah secara serius, maka tidak mustahil momentum Harlah meriah yang terlewat justru menjadi titik balik menuju organisasi yang lebih solid, responsif dan berdaya. (Gus Ra'uf Arrahbini)
