Kaderisasi sebagai Ikhtiar Menjaga Jam'iyyah dan Merawat Warisan Masyayikh
Di lingkungan pesantren kita diajarkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi harus diwariskan. Perjuangan tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diteruskan. Karena itulah para ulama selalu menyiapkan generasi penerus (khalaf) agar estafet perjuangan tidak terputus.
Begitu pula Nahdlatul Ulama.
NU tidak hanya mewariskan kitab, tetapi juga mewariskan manhaj berpikir, adab berjamaah, akhlak kepada ulama, cinta tanah air, serta tanggung jawab melayani umat. Semua itu tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui proses tarbiyah, ta'dib, dan kaderisasi.
Disinilah urgensi Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU). Ia bukan sekadar pelatihan organisasi, melainkan madrasah untuk membentuk kader yang memahami fikrah Nahdliyyah, berakhlak ala santri, serta siap berkhidmah kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengawali risalahnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang menjadi fondasi perjalanan NU. Ayat-ayat tersebut juga menjadi dasar penting NU dalam membangun kaderisasi.
1. Kader Harus Memiliki Jiwa Sami'na wa Atha'na
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Kader NU bukan kader yang gemar mempertentangkan organisasi dengan ulama, atau mengedepankan ego pribadi. Tradisi pesantren mengajarkan adab sebelum ilmu. Maka dalam berjamaah diperlukan sikap sami'nā wa aṭa'nā, selama berada dalam koridor syariat dan aturan organisasi.
PDPKPNU hadir untuk menanamkan adab berjamaah, disiplin organisasi, dan kepatuhan terhadap keputusan jam'iyyah.
2. Kader NU Harus Berjalan di Atas Sunnah Rasulullah
Allah SWT berfirman:
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kader NU bukan hanya mengenal Rasulullah sebagai Nabi, tetapi menjadikan beliau sebagai uswah dalam akidah, ibadah, akhlak, dan perjuangan.
NU berdiri di atas jalan Ahlussunnah wal Jamaah yang diwariskan Rasulullah melalui para sahabat, tabi'in, imam mazhab, hingga para ulama Nusantara.
3. Kaderisasi Adalah Menyambung Mata Rantai Para Pendahulu
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Ayat ini seakan mengajarkan bahwa generasi setelahnya tidak memutus perjuangan, tetapi melanjutkannya.
Demikian pula kader NU, Ia bukan datang membawa NU baru, tetapi menyambung perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan para masyayikh Nahdlatul Ulama.
4. Kader NU Harus Berilmu
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Kemudian Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Tradisi NU adalah tradisi belajar, Sanad keilmuan dijaga, Guru dihormati dan Kitab dipelajari.
Maka kader NU tidak boleh berhenti ngaji kepada yang Ahli Ilmu (ulama') .
5. Kader NU Harus Jujur dan Konsekuen
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Kejujuran adalah modal utama seorang penggerak. Jabatan bisa dicari, Kepandaian bisa dipelajari, Tetapi amanah hanya dimiliki orang-orang yang jujur.
Kaderisasi Sudah Dicontohkan Rasulullah ﷺ
Sesungguhnya kaderisasi bukan konsep baru, Sejak awal dakwah Islam, Rasulullah ﷺ telah menyiapkan generasi penerus.
Di Darul Arqam, Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan Al-Qur'an, tetapi juga membina akidah, akhlak, keberanian, kepemimpinan, dan loyalitas kepada agama.
Dari madrasah kecil itulah lahir Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Mush'ab bin Umair, Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir dan para sahabat yang kemudian menjadi penggerak dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Ketika Nabi ﷺ hendak hijrah ke Madinah, beliau mengutus Mush'ab bin Umair terlebih dahulu sebagai pendidik masyarakat Madinah. Ini menunjukkan bahwa sebelum membangun masyarakat, Rasulullah terlebih dahulu menyiapkan kader. Begitu pula setelah Fathu Makkah.
Rasulullah ﷺ mengutus para sahabat menjadi guru, qadhi, panglima, dan da'i ke berbagai wilayah.
Artinya, perjuangan yang besar selalu dimulai dengan kaderisasi yang benar.
Begitu Pula Nahdlatul Ulama
Para muassis NU tidak hanya mendirikan organisasi, Mereka juga mendidik murid, Membangun pesantren, Menghidupkan bahtsul masail, Mengirim santri dan Mencetak ulama.
Karena mereka sadar bahwa organisasi tanpa kader hanya akan menjadi bangunan tanpa penghuni.
Maka PDPKPNU sesungguhnya sedang menghidupkan tradisi para ulama.
Bukan sekadar melahirkan pengurus, tetapi melahirkan khādim al-jam'iyyah, pelayan organisasi yang ikhlas berkhidmah.
Sebagaimana dawuh yang masyhur di kalangan ulama:
مَنْ لَا قَدِيمَ لَهُ لَا جَدِيدَ لَهُ
"Barang siapa tidak mempunyai hubungan dengan pendahulunya, maka ia tidak akan memiliki masa depan."
Penutup
Kabupaten Kayong Utara membutuhkan kader-kader Nahdlatul Ulama yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga siap mengabdi; tidak hanya bangga memakai atribut NU, tetapi juga memahami fikrah, harakah, dan adab Nahdliyyah.
Semoga melalui PDPKPNU Kabupaten Kayong Utara, lahir kader-kader yang menjadi penyambung mata rantai perjuangan ulama, penjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, penguat ukhuwah, serta penggerak kemaslahatan umat.
Sebagaimana kaidah yang selalu dipegang oleh para ulama NU:
المحافظة على القديم الصالح، والأخذ بالجديد الأصلح
"Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik."
Inilah ruh kaderisasi Nahdlatul Ulama: menjaga warisan ulama, menyiapkan generasi penerus, dan memastikan estafet perjuangan tetap menyala hingga akhir zaman.
Oleh: Santri Kayong



