Top Header Ad

OMAH NAHWU. Roti Gratis dan Kemiskinan yang menyamar

 

Ilistrasi

OMAH NAHWU. Roti Gratis dan Kemiskinan yang menyamar


Ada cerita kecil dari Belanda. Setiap pukul 9 pagi, sebuah toko membagikan roti gratis. Dua orang Indonesia datang, awalnya ingin membeli, lalu diberi tahu bahwa roti itu gratis. Mereka pun senang ada rezeki tanpa biaya. 


Tak lama, seorang warga lokal datang. Ditawari hal yang sama. Jawabannya dingin, tenang, dan seperti tamparan ia berkata "Tidak, terima kasih. Itu bukan hak saya. Saya mampu membayar." Selesai. Tidak ada ceramah. Tidak ada dalil. Tidak ada simbol agama.

Tapi ada sesuatu yang sering hilang dari kita, yaitu rasa cukup dan tahu batas.


Kita ini bangsa yang aneh. Di masjid, kita diajari kejujuran. Di mimbar, kita dengar tentang amanah. Nama Muhammad kita sebut dengan penuh cinta. Tapi di kehidupan nyata Tulisan “GRATIS” lebih cepat kita respon daripada panggilan adzan. Kita berlari bukan karena butuh, tapi karena takut tidak kebagian.


Masalahnya bukan pada roti. Masalahnya adalah mentalitas. Mental “mumpung ada”. Mental “sayang kalau tidak diambil”. Mental yang tidak pernah bertanya “Ini sebenarnya hakku atau bukan?” Kita sering merasa pintar karena bisa “memanfaatkan peluang”. Padahal, bisa jadi itu bukan kecerdikan, tapi bentuk halus dari ketidakjujuran yang kita normalkan.


Yang lebih ironis, kita merasa unggul secara moral. Kita bilang “Orang belanda sana tidak punya agama.” Tapi justru mereka bisa menahan diri dari sesuatu yang bukan haknya, sementara kita yang dibesarkan dengan ayat dan hadis kadang gagal dalam ujian sesederhana sepotong roti


Jadi, siapa yang sebenarnya sedang kekurangan? Ini bukan soal Barat lebih baik. Ini bukan soal kita lebih buruk. Ini soal satu hal yang seharusnya kita hindari bahwa Agama kita masih sering berhenti di kepala, belum turun ke refleks.


Kita tahu mencuri itu dosa. Tapi mengambil yang “tidak jelas batasnya” kita anggap biasa. Kita tahu amanah itu wajib. Tapi urusan kecil seperti antre, jatah, dan hak orang lain kita anggap remeh. Padahal karakter justru terbentuk di hal-hal kecil yang tidak diawasi. 


Kita sering sibuk memperdebatkan hal besar khilafiyah, perbedaan, identitas. Tapi kalah di hal remeh yaitu jujur saat tidak ada yang melihat. Dan mungkin, inilah kemiskinan yang paling berbahaya. Bukan kemiskinan harta. Tapi kemiskinan rasa cukup. Karena orang yang tidak pernah merasa cukup, akan selalu menemukan cara untuk mengambil, bahkan dari sesuatu yang bukan miliknya.


Sepotong roti gratis itu akhirnya bukan soal makanan. Ia adalah ujian diam-diam apakah kita punya harga diri, atau hanya punya kesempatan?. Dan jujur saja kalau roti itu dibagikan di negeri ini, mungkin yang antre bukan hanya yang lapar, tapi juga yang takut kalah cepat.


Barangkali kita tidak perlu ceramah yang lebih panjang. Kita hanya perlu satu keberanian yang sederhana. Berani berkata, "Saya tidak butuh ini. Berikan pada yang lebih berhak." Karena dari situlah, agama berhenti jadi slogan dan mulai jadi laku. Sebab agama itu soal hidup, sikap, dan cara menyikapi hidup. / OMAH NAHWU 

Posting Komentar

Footer Ad

Footer Ad

Contact form