Top Header Ad

Santri Ploso : Mereka Hanya Mencintai NU

 

Photo Para Pendiri NU


Oleh : Santri Ploso

NU bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah sejarah, tempat doa para ulama dititipkan, tempat air mata para pejuang dibasahkan, dan tempat jutaan santri belajar arti pengabdian tanpa pamrih. Karena itulah, ketika badai menggulung PBNU, yang pertama kali terluka bukanlah struktur, melainkan hati para kiai sepuh. Mereka yang sejak muda membesarkan NU dengan ikhlas, tanpa mikrofon, tanpa kamera, tanpa panggung. Mereka tidak bicara soal kursi, tidak memikirkan posisi, tidak menghitung pengaruh. Mereka hanya memikirkan satu hal : bagaimana agar NU tetap utuh dan bermartabat.


Musyawarah kubro di Lirboyo bukan sekadar forum. Ia adalah tangisan kolektif para penjaga sejarah NU. Ia adalah kelanjutan dari keprihatinan yang telah lama mereka pendam sejak pertemuan di Ploso dan Jombang. Setiap pertemuan itu bukan digerakkan oleh ambisi, tetapi oleh cinta yang terlalu dalam untuk diam.


Dalam tradisi pesantren, musyawarah bukanlah arena menang-kalah. Ia adalah jalan mencari ridha Allah melalui kebersamaan para ahli hikmah. Maka ketika konsensus lahir dari lisan para kiai sepuh, sejatinya itu bukan sekadar keputusan organisatoris, melainkan amanat moral dan spiritual. Namun luka justru terasa ketika konsensus itu dihadapi dengan narasi panjang penolakan. Bukan karena berbeda pandangan, tetapi karena cara memandangnya yang terasa menjauh dari adab pesantren, bahwa suara kiai sepuh bukan sekadar opini, melainkan cermin nurani NU itu sendiri.


Para kiai itu menua bukan dalam kenyamanan, tetapi dalam pengabdian. Mereka mengorbankan hidupnya agar NU tetap hidup. Maka ketika mereka berbicara, sejatinya sejarah sedang berbicara. Kami, para santri, belajar satu hal penting dari peristiwa ini, bahwa NU tidak akan selamat oleh kelincahan narasi, kecerdasan strategi, atau kekuatan struktur, melainkan oleh kesetiaan pada adab, hormat kepada ulama, dan ketundukan pada hikmah para sesepuh.


Karena itulah, kami santri Ploso berdiri pada posisi yang sederhana namun teguh mendukung penuh dawuh dan konsensus para kiai sepuh. Bukan karena mereka selalu benar, tetapi karena tanpa mereka, NU kehilangan arah, kehilangan jiwa, dan kehilangan wajah aslinya.


Jika suatu hari NU tetap tegak berdiri di tengah badai zaman, itu bukan karena kuatnya sistem, melainkan karena masih ada generasi yang mau menunduk menghormati para penjaga sejarahnya. Dan jika suatu hari NU benar-benar runtuh, ia bukan runtuh oleh musuh di luar, tetapi oleh kita yang lupa bagaimana cara mencintainya dengan adab.


Santri ploso

Posting Komentar

Footer Ad

Footer Ad

Contact form