![]() |
| Photo Kader Muda Nahdliyin |
Kayong Utara — Rabu, 24 Desember 2025 Nahdliyin Kultural Kayong Utara, Gus Ra’uf, menyerukan Islah atau "gencatan senjata" selama tiga hari antara Rais Aam (Kubu Sultan) dan Ketua Umum (Kubu Keramat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Seruan tersebut disampaikan sebagai upaya meredakan ketegangan internal sekaligus membuka ruang dialog untuk membentuk Panitia Muktamar yang legalitasnya tidak menimbulkan polemik.
Dalam pernyataannya, Gus Ra’uf menilai bahwa dinamika dan perbedaan pandangan di tubuh PBNU merupakan hal yang wajar dalam organisasi besar. Namun, menurutnya, eskalasi konflik yang berlarut-larut justru berpotensi mengganggu khidmat organisasi dan konsolidasi jam’iyah.
“Demi kemaslahatan NU, saya mengusulkan adanya islah atau "gencatan senjata" selama tiga hari saja kalau memang tidak bisa akur selamanya. Waktu tiga hari itu penting untuk menenangkan suasana dan fokus membentuk Panitia Muktamar secara musyawarah oleh kedua belah pihak, baik kubu Sultan maupun kubu Keramat. Dengan demikian legalitas Panitia Muktamar tidak menimbulkan perdebatan lagi karena dibentuk oleh kedua belah pihak sesuai hasil Muktamar Lampung” ujar Gus Ra’uf.
Ia menekankan bahwa pembentukan Panitia Muktamar harus dilakukan secara inklusif, dengan melibatkan unsur-unsur struktural dan kultural NU terutama para kiai sepuh agar hasilnya dapat diterima oleh seluruh pihak. Menurutnya, muktamar merupakan forum tertinggi organisasi yang harus dipersiapkan dengan penuh kehati-hatian dan semangat persatuan.
Gus Ra’uf juga mengajak seluruh warga NU untuk menahan diri dan tidak memperkeruh suasana dengan pernyataan dan komentar komentar negatif atau sikap yang dapat memicu polemik baru.
“NU dibangun di atas tradisi akhlak, adab, dan musyawarah. Itu yang harus kita jaga bersama, Nahdliyin harus mampu menahan diri untuk tidak berkomentar negatif apalagi membuly para tokoh tokoh yang sedang bertikai” tambahnya.
Hingga hari ini, belum ada tanda tanda pasti terjadinya islah antara kedua belah pihak. Namun, sejumlah kader NU kultural tidak pernah berhenti berharap adanya langkah islah atau "gencatan senjata" yang dapat menjadi titik awal rekonsiliasi dan memperkuat soliditas organisasi menjelang Muktamar. CH
