![]() |
| Tulus, Tuntas Dan Totalitas |
Orang sering terlalu gampang kalau ngomong soal ikhlas. Ikhlas itu bersih hati tanpa pamrih. Semua kedengarannya manis, tapi kalau dipakai sebagai kompas hidup rasanya kurang nendang. Masalahnya ikhlas dalam bahasa arab itu enggak sesederhana brosur motivasi islami. Kata ini punya sejarah, punya akar, dan punya bobot yang sering direduksi jadi sekedar niat tulus. Padahal kalau kita telusuri lebih dalam, maknanya bisa berubah dari sekedar perasaan tulus jadi tindakan habis habisan.
Tapi sebelum kesana, mari kita akui dulu dengan jujur, mayoritas dari kita sudah terlanjur salah kaprah, kita kira ikhlas itu asal nggak ngarep balasan. Padahal sebenarnya ikhlas itu soal seberapa penuh diri kita tenggelam dalam apa yang sedang dikerjakan. Ikhlas yang cuma di level kamus bahasa Indonesia bikin orang gampang bikin alibi. Kerja asal asalan pun masih bisa diselamatkan dengan kalimat "yang penting ikhlas". Nah di sinilah letak masalahnya, kalau ikhlas hanya dimaknai tulus, tanpa bicara kualitas usaha, ia bisa jadi stempel halal untuk segala bentuk kemalasan.
Kalau kita balik ke akar katanya, ikhlas itu bukan sekedar niat baik yang dipoles biar manis. Ia datang dari kata kerja akhlaso, yukhlisu dan bentuk masdarnya adalah ikhlason, yang masuk dalam kategori tsulasi mazid ruba'i. Kata ini memiliki banyak arti. Dalam kaidah bahasa Arab, ia termasuk kategori musytarok lafdzi, alias kata yang punya cabang makna banyak. Biasanya orang berhenti di arti murni, bersih, tulus. Tapi ada satu arti ikhlas yang jarang disentuh, yaitu intaha, selesai, habis, tuntas. Ini bukan sekedar murni, tapi benar-benar dikerjakan sampai titik darah penghabisan.
Bayangkan kalau makna "habis, selesai dan tuntas" ini dipakai dalam konteks amal atau sebuah pekerjaan, maka ikhlas jadi bukan sekedar tulus tanpa pamrih, tapi mengerjakan dengan habis habisan, tidak setengah setengah, totalitas. Jadi nggak ada ruang untuk amal setengah matang atau niat yang cuma setengah hati yang hanya sekedar mengerjakan.
Di titik ini makna ikhlas berubah drastis. Dari sesuatu yang terdengar lembut menjadi sesuatu yang keras dan menuntut kerja total tanpa sisa. Kalau murni itu soal kualitas niat maka totalitas adalah soal kualitas aksi. Dua duanya penting tapi makna yang kedua ini sudah sering hilang dari radar ingatan.
