![]() |
| Ket Photo : Sekretaris Pergunu dan Rais Suriyah PCNU KKU |
Oleh : Jamani (Sekretaris PERGUNU KKU)
Dimulai dari salam taqzimku kepada seseorang yang sangat istimewa dalam suatu perkumpulan. Beliau adalah pembina, pengarah, pengawas, dan pejabat~penentu kebijakan tertinggi dalam perkumpulan Nahdlatul Ulama (baca: Rois Suriyah).
Ada ungkapan beliau melalui pesan singkat tersusun kata menjadi kalimat sebagai wujud cinta dan kepedulian terhadap perkumpulan. Setelah menyimak dengan seksama dalam tempo panjang dan berulang. Ditemukan pesan hikmah dalam setiap kata ada nilai-nilai moral dan motivasi kehidupan yang sangat bermakna.
Yum kite coba sedikit menelaah ungkapan beliau yang disematkan dalam sebuah group WA sampai hari ini *"Semoga yang dikritik menjadikannya sebagai vitamin. Bukan racun. Kritik sebagai masukan, sebagai motivasi untuk lebih menata... Ayo bangkit"*
*Pertama ~ Semoga yang dikritik*
Kata "semoga" berasal dari kata dasar 'moga' dalam istilah KBBI merupakan bentuk kata tugas yang digunakan untuk menyatakan harapan atau doa agar sesuatu terwujud. Dari istilah ini sangat jelas sebagai orangtua, pembimbing perkumpulan, beliau senantiasa berdoa; berharap agar setiap orang yang membacanya akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.
Kata "yang dikritik". Siapa yang dikritik? Beliau tidak menyebutkan sifulan bin fulan atau fulanah binti fulan. Disinilah letak kehati-hatian beliau menjaga ungkapannya agar terhindar dari kata "singgung". Ia sadari akan hikmah dan hukum agar terbebas jauh dari lukai hati seseorang.
*Kedua ~ menjadikannya vitamin bukan racun*
Kaitannya dengan "kritik". Disini beliau menekankan sikap dan tindakan positif dan bukan negatif terhadap kritikan. Beliau ingin yang dikritik proaktif melihatnya secara objektif bukan subjektifitas.
Menurut beliau Vitamin sangat dibutuhkan dengan kadar yang tepat dan dengan cara yang benar untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan serta perkembangan baik individu maupun kelompok.
Ketika menerima kritik dalam konteks sanding, banding dan tanding antara sebelum dan sesudahnya. Beliau mengajak baik yang mengkritik dan dikritik berfikir arif dan konstruktif ~mengingatkan jangan menganggap kritik sebagai racun (baca; perusak); tidak perlu berlebihan yang bisa jadi akan berbahaya dan merusak semangat diri serta hubungan.
Maka kritik yang sehat sangat dibutuhkan dan jangan sampai terjebak dalam zona nyaman dan sulit berkembang sama seperti tubuh yang kekurangan vitamin akan mengalami masalah dalam kesehatan alias berpenyakit.
*Ketiga, Kritik sebagai masukan*
Ungkapan ini bukan sekedar kata bijak (quotes) alias teks indah tertulis. Tetapi berangkat dari pengalaman tiga periode menjadi Tanfidziyah. Jelas jejak rekamnya sebagai leader tidak diragukan. Mulai dari tidak ada menjadi ada, dari ada menjadi ada dan berada.
Faktanya selama kurang lebih 15 tahun membangun perkumpulan. Menghadapi berbagai dinamika kepentingan dan kebutuhan perkumpulan. Tentu tidak terlepas dari kritikan dan berbagai masukan bahkan serangan; kecaman dari berbagai pihak. Kritik tajam setajam silet mengiris~menusuk hingga ke hulu hati.
Namun dengan khas senyum ramahnya, beliau terbuka dan penuh tanggung jawab melalui integritas dan kemampuan kepemimpinannya. Bukan sekedar kesuksesan, tetapi juga dari cara merespons kritik dan masif melakukan perbaikan dan perubahan lebih baik (lihat jejak digitalnya).
Beliau meyakini salah satu lirik "Ya Lal Wathon" yang diciptakan KH. Abdul Wahab Chasbullah ( 1916) menjadi spirit Ruh Perjuangannya. " Siapa datang mengancammu, kan binasa dibawah durimu". Atas dorongan semangat kecintaan kepatuhan itulah Ia mampu bertahan sehingga perkumpulan tetap tegak berdiri di Bumi bertuah.
*Keempat, motivasi untuk lebih menata"*
Secara spesifik istilah ini merupakan ungkapan perintah dengan bahasa halus dan lembut. Selaku pengarah; pengawas tentunya menghendaki yang dikriitk agar membenahi~menata apa yang kurang, salah dan khilaf. Motivasinya perlu ditata dengan baik dari dalam diri (internal) dan eksternal (lingkungan).
Dari internal, mulai dari hati (niat) dan pikiran serta tindakan. Inna a'malu bil niat sebagai keutamaan. Ketika hati sudah memantaskan diri, maka apapun konsekuensinya, mawas diri dibutuhkan. Meluaskan wawasan pikiran (pengetahuan) seperti sebuah gelas yang selalu kosong, bukan sebaliknya, merasa penuh, perlu diisi bukan merasa tumpah ruah.
Sedangkan motivasi eksternal (lingkungan) bergaullah dengan siapapun tanpa memandang siapa dan darimana latarnya, karena pemimpin dituntut untuk luwes sebagai pelayan bukan dilayani. Sebab itulah beliau mendorong yang dikritik untuk lebih banyak belajar, bertanya dan menyimak bahkan berGuru.
Memang sudah sepatutnya sebagai pemula. Banyak belajar dari hal yang kecil, lebih banyak mendengar, membangun komunikasi yang baik, membentuk tim yang solid dan lebih terbuka. Bukan sebaliknya hanya mengandalkan teori~saling salah tetapi juga tindakan nyata berupaya memahami berbagai situasi secara kompleks dan komprehensif.
Ada ungkapan orang bijak *"Leadership is about people, not position*. Jabatan hanyalah label di atas kertas; pengaruh anda datang dari cara anda memperlakukan orang-orang di dalamnya.
*Terakhir, "ayo bangkit"*
Ketika membaca dua kata ini bulu kudukku merinding menegak. Sebuah paduan kata keramat~spirit pergerakan. Ruhnya sama dengan salah satu lirik Yalal Wathon, "jangan halangkan nasibmu, bangkitlah Hai bangsaku"
Hem.. sepertinya tak bisa kulanjutkan, liat bungkus Kalbaco isinya sisa sebatang, liat jam sudah pukul 00.56, kaleng kopi pun sisa sakkarnye, hehe. Singkat saja, pesan hikmahnya dari ungkapan "ayo bangkit" adalah beliau mengajak jangan putus asa, optimislah untuk bergerak-menggerakkan perkumpulan.
Sampailah pada simpulan dari ketikan ini. Berdasarkan uraian di atas sekedar mengingatkan diri ketika dikritik~wujud kecintaan seorang santri yang fakir ilmu kepada kiyainya. Ketaqziman anak kepada orang tuannya. Kader yang sangat membutukan bimbingan dan arahan seniornya. Tanfidziyah membutuhkan bimbingan Suriyahnya.
Kecintaan ada kebaikan. Setiap kebaikan ada keberkahan. Setiap keberkahan ada RahmatNya. Semoga beliau senantiasa dalam lindungan~Nya, diberikan kesehatan dan dimudahkan selalu urusannya.
Mohon ampun maaf Kiyai atas kelancangan uraian ini, sekedar untuk nasihat diri sendiri, selalulah menginspirasi~ menebar untaian hikmah kepada si fakir ini yang haus akan nahihatmu.
Wallahu'alam bishowwab
Tanjung Belimbing, 27 Januari 2026
Jamani*
*Sekretaris PC Pergunu Kayong Utara
